dari seseorang aku belajar, bahwa kita harus kuat
yang berjuang tidak sekedar berjuang, tetapi memaknai perjuangan itu sendiri
memahami setiap kepedihan yang dirasa
mengerti setiap tetesan air mata
ketika semuanya tidak bisa diatasnamakan denagn Cinta
Kita butuh kepercayaan, kasih, kesetiaan, kebersamaan
tidak semua tentang cinta
Darinya, aku belajar untuk tidak bergantung pada orang lain
Membuatku sadar akan kemampuanku
menyadarkan aku betapa tidak buruknya diri ini
Dari dirinya, aku selalu bersyukur
bersyukur atas segala yang Tuhan berikan
Bersyukur atas keberadaannya untukku
Semua hanya masalah waktu
Waktu bisa menjawab semuanya
ketika tak satupun kaum adam dan hawa dapat menjawabnya
Saturday, February 22, 2014
Sunday, January 5, 2014
Wawancara
Cindera Mata
Sumber Kehidupan
Seorang pedagang souvenir di
Jalan Malioboro, Yogyakarta. Sebut saja Ibu Rini Rahayuti. Ibu Rini kelahiran
Yogyakarta, 5 Mei 2956. Kini berdomisili di Ledok Tukangan bersama suaminya,
Bapak Sunardi dan ke empat anaknya.
Sejak kecil Ibu Rini sudah
dididik keras oleh kedua orang tuanya. Dididik keras oleh kedua orang tuanya
juga memiliki maksud baik demi kelangsungan masa depan Ibu Rini sendiri. Ketika
SD, ibu Rini disekolahkan di SD Kanisius Kota Baru. Tapi sayang, keluarganya
memiliki masalah ekonomi yang mengharuskan Ibu Rini tidak dapat melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kegiatan Ibu Rini setelah berhenti
sekolah saat itu hanya bekerja dan membantu kedua orang tuanya.
Kini, kegiatan keseharian Ibu Rini adalah berjualan souvenir di
pinggiran Jalan Malioboro bersama suaminya, Pak Sunardi. Kegiatan ini sudah
digelutinya sejak tahun 1984. Cindera mata yang ditawarkan juga berbagai macam
bentuk dan warna. Ada miniatur mobil, kereta, vespa, motor, dan lain lain.
Wayang kulit, asbak, dan kotak tisupun juga terjuan di lapak souvenir ini. Ibu
Rini membuka lapaknya mulai dari pukul 07.00 – 24.00 WIB setiap harinya. Hal
tersebut dilakoninya semata-mata hanya untuk membiayai kebutuhan keluarganya.
Ia tidak ingin anak cucunya bernasib sama ketika Ibu Rini masih kecil.
Modal awal yang dulunya Rp 200.000,- ini, kini sudah bisa mencukupi
kebutuhan Ibu Rini dan keluarga. Ibu Rini tidak memilih pekerjaan yang lainnya
karena memang sudah sejak dulu ingin menekuni
dunia perdagangan. Ibu Rini sudah ada niatan memasarkan cindera mata
yang dimiliki ini ke jangkauan daerah yang lebih luas. Akan tetapi minimnya
jangkauan komunikasi yang dimiliknya, Ibu Rini masih belum sempat
merealisasikan hal tersebut.
Kita Perlu Mendalaminya
"Don't judge a book by it's cover."
THAT'S RIGHT!
Masih ada orang yang nyepelein kata-kata itu?
Makna dari kata-kata itu dalem lho kalo dirasain. Bener deh.
Ya, kita beranggap-anggap saja sebagai contohnya.
Buku. Ya. Ketika kamu ke toko buku dan ngeliat satu buku yang cetakannya biasa aja dan terbilang nggak menarik. Otomatis kita langsung "Halah, buku biasa aja kaya gitu nggak usah dibeli." kemudian kita langsung mencari buku yang ebih menarik.
Nggak lama setelah itu ada orang lain mengambil buku yang kurang menarik tadi sambil berbincang-bincang. "Coba deh kalian lihat buku ini, isinya menarik buat dibaca dan nggak ngebosenin. Banyak informasi yang dikasih juga lho."
Sedangkan disaat yang bersamaan kita udah nemu buku yang lebih bagus dan ketika kita buka, isinya malah mengecewakan. Sometimes, the bad things isn't bad at all and the good things isn't good at all. Bisa saja kebalikannya, Yang tampilan luarnya menurut kita nggak menarik, punya isi yang ternyata menarik banget gitu lho. Sedangkan yang tampilannya menarik, isinya malah mengecewakan hati kita. Keduanya memang bisa menimbulkan perasaan menyesal kok.
Gimana, sih, perasaan kalian kalau lihat yang kaya gitu? Nyesek? Nyesel? Kecewa? Iya, aku tahu kok rasanya.
Itu hanya salah satu contoh paling simple lho menurutku. Sedangkan di luar sana masih banyak contoh seperti itu, bahkan bisa-bisa sampai bikin kamu bingung harus pilih yang mana.
Tentu sih aku sendiri pernah kaya gitu. Tapi aku udah sadar, aku belajar mendalami makna itu. Coba kalau kamu sendiri diposisikan sebagai buku yang tampilannya kurang menarik kemudian kamu diperlakukan kurang baik kaya gitu? Sakit hati kan? HAHAHAHAHAHAHAAKUUDAHPERNAHHAHAHAHA.
La terus cara nilai seseorang/sesuatu waktu pertama kali tahu itu gimana?
Ya lihat point-point positif dari seseorang/sesuatu itu. Jangan cuma ketika seseorang/sesuatu itu baru memunculkan 1 sisi negatif, itu langsung membuat kalian berpikir yang negatif juga. Secara nggak langsung you've judge them by their cover. Guys, you should've seen something from the other point of view. DO NOT see something only in one point of view. Karena ketika kamu hanya melihat sesuatu dari satu sisi saja, kamu langsung menarik kesimpulan sendiri dari suatu hal tersebut. Dan ketika kamu melihat sesuatu dari sisi yang lain, kamu akan mendapatkan maknanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)


