Saturday, July 26, 2014

Kamu Keluar Dong

"San, aku udah di luar. Kamu keluar dong,"

Sempat aku mendengar suara kendaraan roda dua berhenti di depan rumahku. Aku menghiraukannya. 

Tak lama kemudian ponselku berdering kala itu. Sebuah pesan singkat  masuk ke ponselku. Kawanku, yang berjanji mampir ke rumah mengembalikan barangku yang ia pinjam. 

"San, aku udah di luar. Kamu keluar dong,"

Ternyata suara kendaraan di depan rumah yang aku hiraukan adalah kawanku. Kenapa ia tidak memanggil saya dari luar. Sekedar mengucap permisi.

Apa ini salah satu majunya tekhnologi saat ini? Dalam jarak dekatpun lantas menggunakan sebuah perantara benda mati. Jarak yang hanya terbatas sebuah tembok. 

Apa hanya perasaanku yang berkata bahwa remaja kini melakukan hal tersebut. Mengabari lewat pesan singkat jika sudah sampai di depan rumah. Apa slahnya mengucap permisi?

Bukannya apa, tapi aku tidak suka melakukan hal itu. Semoga tidak hanya aku yang masih memanggil dari luar rumah kawanku. Yang tidak memberi tahu kawanku lewat pesan singkat bahwa aku sudah sampai di depan rumahnya.

Sunday, April 6, 2014

Karena Hidup Banyak Warna

"Hidup itu nggak cuma satu warna. Dia ada banyak warna"

Sekejap kalimat tersebut melintas di pikiranku. Kemarin ketika membantu dekor untuk persiapan paskah.
Di suatu sudut ruangan aku melihat tumpukan kotak-kotak. Warna-warni, dan tentu saja cerah.
Ada warna merah muda, hijau, coklat, dan lain-lain.
Tidak bisa aku pungkiri, warnanya menarik hati, untukku.
Diibaratkan seperti hidup, seperti itulah warna-warnyanya. Cerah dan berwarna-warni.
Ya, benar. Hidup itu ada banyak warna. Kalau cuma ada satu warna, dijamin nggak bakal seru.
Misalkan saja, warna hitam. Nggak akan selamanya, kan, hidup cuma warna hitam. Kalau nggak ada warna warna lainnya, mau jadi apa?
Hidup itu saling melengkapi. Banyak rasa, banyak warna. Sedih dan senang itu satu paket. Pun kesendirian dan kebersamaan.
Hidup itu butuh keseimbangan.
 

Wednesday, April 2, 2014

Berbagai Macam Kebahagiaan

“Sebenernya bahagia itu apa, sih?”
“Bahagia itu rasanya seperti apa?”

Terkadang aku bertanya-tanya di dalam benakku. Apa? Kenapa? Bagaimana? Aku tahu memang nggak harus betul-betul paham untuk mengerti suatu hal. Aku hanya butuh kepastian, apa itu bahagia?

Tadi siang sepulang sekolah sambil menunggu ekstrakulikuler bersama teman-teman. Kita berbincang macam-macam hal. Mengeluarkan gelak tawa kita. Lepas. Bebas

Ada yang bilang kalau terlalu menunjukkan kebahagiaannya yang terlalu berlebihan, dia sedang menunjukkan kepura-puraannya. Ah, apa iya?
Ada juga yang bilang, dia yang sedang terdiam, justru sedang bahagia?
Jika banyak yang beranggapan seperti itu, lantas bagaimana dan seperti apa 'bahagia' yang sebenarnya?

Yang jelas, persepsi orang tentang bahagia memang sangat berbeda.

Nggak ada yang tahu bagaimana perasaanku sekarang yang melatarbelakangi tulisan ini.